23 Juni 2020

Bagaimana Menyikapi Perasaan Diremehkan di Tempat Kerja?

Sarjana Ilmu Politik dengan IPK Cum Laude. Dulu, ketika saya masih naif dan tidak tahu banyak tentang dunia kerja, saya banyak berharap dengan titel ini, saya pikir, ini akan mengantarkan saya ke jalur karir yang menakjubkan. Coba tebak apa pekerjaan pertama saya sebelum di pabrik sepatu? Analis kebijakan luar negeri? Pegawai Kemenlu? Kerja di Internasional NGO ? Staf khusus urusan luar negeri? Staf di ASEAN? Haha.. Saya harap, itu pekerjaan pertama saya.


Google Images

Setelah melamar ke ratusan lowongan di berbagai platform, mulai dari korban EO Job Fair berbayar hingga desperately melamar ratusan lamaran via internet. Akhirnya, saya mendapat kesempatan interview (dan akhirnya diterima) di salah satu perusahaan FMCG besar di Indonesia sebagai "Warehouse Supervisor". Bayangan pertama saya, "wah.. keren nih, baru masuk udah jadi Supervisor". Saya membayangkan bekerja di sebuah gudang distribusi besar, bergelut dengan data inventory di depan komputer.


 Google Images

Tanpa mengurangi hormat saya dengan orang-orang yang bekerja di bidang ini, saya (saat itu) merasa berhak mendapatkan lebih, I deserve more than this. Kuliah tiga setengah tahun mendalami ASEAN seakan sia-sia, penelitian sampai ke Bangkok serasa tidak berguna. I was underappreciated. Setelah berkontemplasi di kamar mandi kosan yang terpisah dengan kamarnya, saya putuskan untuk resign. Tak lama setelah itu, saya mencari warnet dan membuat surat pengunduran diri. Esoknya saya datang pagi-pagi lalu segera mencari kepala gudang dan memberikan suratnya, saya beralasan, saya harus kembali ke kampung halaman karena urusan mendesak.


Google Images

Awalnya lega, tapi ternyata proses setelahnya tidak mudah, saya bergegas mencari pekerjaan lagi, memulai prosesnya dari nol, dari Job Fair ke Job Fair dan dari satu platform digital ke platform digital lain. Sampai akhirnya, ada telepon dari nomer telepon Karawang, sebuah panggilan yang awalnya saya tidak anggap terlalu serius, bahkan saya tidak ingat melamar ke perusahaan ini. Sebuah undangan dari perusahaan yang baru saya kenal ketika ditelepon. Lusanya saya dijanjikan untuk bertemu tim HRD, proses rekrutmen berlajan seperti pada umumnya, Psikotest, Tes Kemampuan, Interview HR, Interview User dan tanda tangan kontrak. Karena ini adalah fase yang sama yang saya kerjakan dua kali, saya tidak begitu excited seperti sebelumnya, jika sebelumnya saya hampir selalu berpakaian layaknya seorang pengangguran mencari lowongan (kemeja panjang, (kadang) dasi, celana bahan, pantofel), kali ini saya hanya memakai kemeja biasa dengan celana jins dan sepatu bots yang biasa saya pakai kuliah. Tak banyak yang saya harapkan.
Tapi, begitulah (mungkin) cara semesta bekerja, kadang yang kalian harapkan tidak terjadi, tapi yang kalian remehkan ternyata hinggap di hidup kalian. Saya diterima. Singkat cerita, saya ditempatkan di bagian ekspor, mengurus segala kebutuhan dokumen ekspor, dari mulai Invoice, Packing List, dan Booking Number dari LSP/Forwarder. Di fase ini saya merasa sangat diremehkan, bukan karena Job Desc-nya tapi lebih karena senior yang tidak begitu friendly. Saya sedikit merasa terintimidasi dan dipandang sebelah mata, lalu apa yang saya lakukan? Walaupun dengan perasaan gondok, tapi saya berusaha agar setiap tugas yang diberikan dikerjakan dengan baik, apa yang diperintahkan atasan, dikerjakan tepat waktu dan hasil maksimal.
Lalu bagaimana akhirnya? Setelah bekerja hampir empat tahun disini, posisi saya sekarang adalah Chief di Business Unit bagian Packaging and Labelling, posisi mantan senior saya? Dia stuck sebagai staff dengan Job Desc yang sama.
Kesimpulannya, saya pernah "merasa direndahkan" dan "dianggap remeh" dua kali. Tapi, saya coba meresponnya dengan sebaik mungkin, tidak larut dalam perasaan itu. Saat bekerja sebagai WHS Supervisor pun, saya lakukan setiap tugasnya dengan sungguh-sungguh, pun sama halnya ketika saya masuk pabrik ini. Saya percaya jika semua dikerjakan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, semua akan terbayar dengan sendirinya, walau kadang dengan hal-hal yang tidak terduga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar